Do I Have A Choice?

Tanda Tanya
Tanda Tanya

Hmm.. Beberapa hari offline, menghabiskan waktu di jalan dan bertemu banyak orang. Menyendiri di tengah keramaian, memberi saya banyak waktu untuk mengamati sekeliling sekaligus untuk berpikir. Dan pelajaran yang saya peroleh beberapa hari ini adalah tentang ‘pilihan’. Pelajaran ini berawal ketika saya tengah duduk termangu di bis kota jurusan TO.Wilangun – Purabaya, dalam perjalanan pulang ke Kediri. Entah mengapa terlintas dibenak saya sebuah pertanyaan, “Do I have a choice?” Mulanya, pertanyaan ini hanya saya anggap angin lalu. Tapi kemudian, saya teringat alasan saya menaiki bis kota itu.

Ok, here’s the story. Awalnya saya menentukan, ada 2 cara untuk sampai ke Terminal Purabaya. Menggunakan taksi atau bis kota. Jika naik taksi, saya bisa berangkat dari rumah Adik, atau dari tempat kerjanya setelah saya mengantarnya ke sana. But, I skip the taxi right away, bakal expensive soale. Hehehe.. :p

Otomatis pilihan jatuh ke bis kota dan yang ada dipikiran saya waktu itu hanya 1, naik bis PAC1 (bis patas AC Darmo-TP-Purabaya). Ahh.. terbayang sudah enaknya naik bis patas, udah adem, nyaman tempat duduknya, bebas pengamen dan sederet kenyamanan lainnya. Untuk itu, saya harus turun di dekat Bonbin terus Adik lewat Joyoboyo menuju tempat kerjanya. Dan kesanalah tujuan kami.

Masih di sekitaran jalan Diponegoro, kami melewati sebuah bis kota jurusan TO.Wilangun-Purabaya. Tanpa berpikir panjang, tiba-tiba saya memutuskan berhenti untuk naik bis itu saja. Adikku keheranan dan bertanya, “Nggak jadi naik Patas?”. “Nggak, biar Adik nggak kejauhan, kalo mesti lewat Joyoboyo!”, jawab saya singkat. Beberapa menit kamudian, saya pun sudah berada di bis kota, sambil menikmati kesendirian…

Tak lama, genjrang-genjreng seorang pengamen pun mulai meramaikan suasana. Suaranya sih lumayan bagus, lalu saya berikan uang sekedarnya. Pengamen adalah pemandangan biasa di atas bis, total ada tiga kali pengamen sumbang suara dalam perjalanan saya ini. Ditengah alunan lagu mereka ini lah, pertanyaan itu terbersit.

Tentu saja, saya punya pilihan untuk memberi mereka uang atau tidak. Sebelumnya, saya punya pilihan untuk naik bis kota TO.Wilangun-Purabaya atau tidak, saya punya pilihan untuk naik taksi atau bis. Bahkan saya juga punya pilihan untuk pulang ke Kediri atau tetap di Surabaya. “Do I have a choice?”. “Yes!”, I replied.

Kenyataan itu membuatku tersadar, ternyata Allah SWT selalu menghaparkan pilihan dihadapanku, Allah SWT selalu membimbingku pada suatu pilihan. Seperti juga saya, anda bahkan punya pilihan untuk tidak meneruskan membaca tulisan ini, hingga anda tidak pernah sampai di *sini*. Dan saya, punya pilihan untuk tidak menyelesaikan tulisan ini, apalagi memuatnya… LOL.. :p

Tersadar saya akan banyaknya pilihan yang harus saya buat dan betapa semua saling berhubungan, saling mempengaruhi dan saling bergantung satu sama lain. Lalu, setelah Allah SWT memberi kita pilihan apakah bisa kita sekehendak hati untuk memilih? Meskipun tidak ada batasan bagi kita untuk memilih, tapi memilih sekehendak hati atau tidak pun merupakan sebuah pilihan, kan??? :p

Teringat saya pada sebuah pilihan beberapa bulan ini menghantui pikiran saya, sebenarnya saya sudah tahu apa yang akan saya pilih. Hanya saja, untuk meyakinkan diri saya sendiri itu yang memakan waktu lama. Beberapa bulan ini, saya dihadapkan pada pilihan yang akan merubah jalan hidup saya. Sebuah jalan hidup yang telah diperkenalkan Allah SWT pada saya semenjak 12 tahun lalu!

Saya yakin, bahwa Allah SWT tidak akan menimpakan cobaan yang tidak mampu ditanggung hamba-Nya. Saya juga yakin, bahwa Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang. 12 tahun perjalanan hidup saya, saya dipersiapkan untuk membuat keputusan dari pilihan ini.

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya bagi Allah Tuhan Semesta Alam
Sampaikanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya

Ya Allah, telah lama kumulai perjalanan mencari Engkau,
telah banyak petunjuk Engkau berikan
tapi betapa sedikit aku mengikutinya.

Ya Allah, telah begitu lama Engkau bimbing aku,
Engkau cegah aku dari segala sesuatu yang dapat mencelakai aku,
Engkau buka mata dan hati ku di saat terbaik bagiku.

Ya Allah, dengan memohon ke-Ridhaan Mu
dengan berharap Tuntunan dan Perlindungan Mu,
Aku sudah memutuskan pilihanku.

Ya Allah, aku bermohon kepada Mu
Jadikanlah pilihan ku ini yang terbaik bagiku,
sebagaimana yang Engkau Kehendaki.

Ya Allah, jadikanlah jalan ku ini sebagai jalan yang Engkau Ridhai,
Jika tidak kepada-Mu, harus kemana aku berlindung?
harus kemana lagi aku memohon pertolongan?

Ya Allah, aku memohon ampun dosa-dosaku kepada-Mu
juga dosa-dosa kedua Ibu Bapak ku,
serta dosa saudara-saudara dan keluarga ku.

Ya Allah, aku bermohon pada-Mu
agar Engkau penuhi kalbuku dengan cinta dan rasa takut pada-Mu
dengan keyakinan dan keimanan pada-Mu
dengan rindu dan rasa takut berpisah dengan-Mu

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam
Tiada daya dan kekuatan melainkan dari Allah yang Mahatinggi lagi Mahaagung
Cukuplah bagiku Allah sebagai penolong yang sempurna
Sampaikanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya

“Do I have a choice?”. “Yes, I have!”, I replied.

Do I Have A Choice?

2 pemikiran pada “Do I Have A Choice?

  1. Kameichi berkata:

    Ternyata saya berkeputusan membaca tulisan ini juga, meski sempat bertanya “Do I have to keep reading this thing?”. “Yes, I have..”, I replied😛

    Setiap detik, makhluk ciptaan Allah SWT yang dibekali kecerdasan selalu membuat keputusan, coba bayangkan ada berapa macam bentuk cerita “TAMAT” dari semua “Pilihan” tersebut ???

    –[sekilas iklan]–
    Cakep cakep cuakep..
    Cocing cocing cocing..
    Mau? Mau? Mau?

    Tapi tulisan ini menyisakan satu pertanyaan.. Lalu apa yang disebut “jalan hidup yg diperkenalkan 12 tahun lalu??” apakan itu “Naik Bis”??? [curious]

  2. slametyp berkata:

    Thanks Kameichi, sudah berketetapan hati untuk tetap membaca tulisan saya, bahkan memberikan komentar…😀

    Saya setuju, memang akal digunakan untuk berpikir dan membantu kita untuk memutuskan suatu pilihan. Sungguh, Maha Besar Allah Tuhan Semesta Alam…

    –[sekilas iklan]–
    Cakep cakep cuakep..

    Terima kasih, sebenarnya anda katakan sekali saja sudah cukup. Tapi tak apalah, itu pilihan anda…😀

    Cocing cocing cocing..

    Maaf, saya tidak makan yang begituan…

    Mau? Mau? Mau?

    Bah, saya kan sudah bilang, saya tidak makan yang begituan!!!

    –[sekilas iklan]–
    Ini, saya kutip komentar Kameichi,

    Tapi tulisan ini menyisakan satu pertanyaan.. Lalu apa yang disebut “jalan hidup yg diperkenalkan 12 tahun lalu??” apakan itu “Naik Bis”??? [curious]

    Hahaha…Perlu beberapa hari untuk menuliskannya, sampai males dan hampir tidak jadi ditulis… :p “Naik Bis”???, ternyata bisa dilihat dari sisi yang itu ya?

    Tapi, coba Kameichi baca lagi dengan lebih seksama.
    Keputusan untuk naik bis itu muncul setelah saya memutuskan untuk tidak naik taksi, suatu pilihan yang berujung dari keputusan saya untuk pulang ke Kediri. Jadi bukan keputusan yang ‘diperkenalkan’ sejak 12 tahun lalu… :p

    Well, yang dapat saya katakan adalah, perjalanan 12 tahun itu berawal dari sebuah do’a.
    Imam Ali Zainal Abidin a.s. dalam sebuah do’anya, mengatakan:

    Ya Allah, aku bermohon pada-Mu
    agar Kau penuhi kalbuku dengan cinta dan
    rasa takut pada-Mu
    dengan keyakinan dan keimanan pada-Mu
    dengan rindu dan rasa takut untuk berpisah dengan-Mu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s